Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BUKAN REPORTASE BIASA: GEMPA DINI HARI



SYABABSALAFY.COM - Senin (22/5) dini hari. Sebuah rumah di pelosok desa bergetar hebat. Pintu-pintu kayu berbunyi seolah ada yang mendobrak. Ahmad -bukan nama aslinya- langsung melompat dari kasur. 

Setengah sadar. Ia merasakan bumi bergetar. Beruntung, goncangan ini tak berlangsung lama. Rumah khas kampung di pelosok desa itu selamat.

"Awalnya saya bingung. Ini getaran gempa atau hanya ilusi karena saya terkejut dari mimpi." Ungkap Ahmad menceritakan kejadian semalam.

Ahmad bergegas ke luar rumah. Suara-suara jangkrik bersahutan seperti biasanya. Seolah tak terjadi apa-apa. Ahmad semakin bertanya-tanya.

"Saya segera mengambil ponsel". Lanjut Ahmad. Rupaya, ini bukan ilusi. Ahmad mengakses aplikasi resmi milik BMKG. Gempa berkekuatan 5 SR mengguncang dari Pacitan. Getarannya terasa cukup hebat di dataran Yogyakarta.

Ahmad mencoba menenangkan diri. Ia mulai menghubungi temannya melalui saluran WhatsApp. Ternyata, kawan yang berada di dekat kota juga merasakan getaran malam itu.

  

Ponselnya tiba-tiba bergetar. "Kalau gempa seperti ini, aktivitas gunung Merapi (biasanya) juga dipantau." Rupanya, Ahmad mendapat pesan singkat dari salah satu kerabatnya sesaat setelah gempa terjadi.

Spontan, jemarinya langsung mengakses siaran live pantauan gunung Merapi. Rupanya, tidak ada aktivitas vulkanologi yang meningkat. Terlihat biasa saja.

Ahmad memantau siaran live dengan seksama. Hatinya tenang. Sebagaimana aktivitas Merapi juga tidak bergejolak.

Namun, tak berlangsung lama. Hati Ahmad mulai bergemuruh. Ia mulai resah dan gelisah.

"FF game burik!." Ahmad terkejut hebat, ia sedang membaca komentar di kolom live chat. Rupanya, anak-anak muda sedang beradu mulut. Saling menghujat soal game online yang sedang populer di kalangan remaja masa kini.

"Gw pake map hack nie." Tulis salah satu komentar warganet. Ahmad mengelus dada. Seolah hatinya berguncang hebat. Beginikah potret remaja masa kini? Di saat Allah menegur dengan sedikit gempa bumi, para remaja itu justru menjadikannya bahan candaan. Seolah mereka akan hidup abadi. Tak punya beban dosa.

"Aku cah ireng, wani po ro aku? (Aku anak berkulit hitam, kamu berani lawan aku?)" Tulis warganet yang lain.

Wajar, Ahmad tak habis pikir. Potret remaja masa kini begitu suram. Seolah mereka diperbudak secara hina oleh game online. Belum lagi, ucapan dan lontaran kata-kata kasar seolah sudah dianggap wajar. Nama-nama hewan berkaki empat menghiasi live chat siaran langsung pantauan aktivitas vulkanologi gunung Merapi.

Anak muda, kemana arah mereka saat ini. Siapa yang harus bertanggungjawab? Akankah kita biarkan pemuda sebagai generasi penerus bangsa semakin memburuk? Ataukah sudah saatnya, para orangtua memperbaiki pendidikan anak-anak mereka dengan ajaran Islam yang mulia. Mari, Andalah yang akan berperan mewujudkan perubahan. (AM)





Posting Komentar untuk "BUKAN REPORTASE BIASA: GEMPA DINI HARI"