Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

SECANGKIR KOPI HANGAT ITU...



Pagi ini terselimuti awan putih. Mentari pun masih malu-malu menampakkan diri. Namun, dinginnya udara telah menyerang sedari tadi. Dan secangkir kopi hangat ini akan menjadi teman sejati yang akan menyegarkan aktifitas sepanjang hari.


Masih teringat hangat, sehangat kopi ini. Berbagai peristiwa yang harusnya menjadi pelajaran bagi santri. Juga menjadi peringatan untuk terus memperbaiki diri. Jangan pernah gengsi bahkan benci kepada teman-teman baik yang harusnya kita cintai. Mereka yang telah meluangkan hati, demi kebaikan dan ketertiban para santri.

Masih sehangat kopi ini. Namun, biarlah peristiwa berangsur dingin sedingin udara pagi, tetapi janganlah dilupakan bahwa sesruput kopi dapat melahirkan inspirasi. Begitu pula dengan peristiwa ini, harusnya bisa menjadi pelajaran yang berarti.
Seorang ulama pernah mengatakan kata-kata bijak yang bernilai tinggi, "Jika seorang mau bertafakur, di setiap hal dan kejadian pasti dia dapatkan pelajaran hidup."

Jadi, apapun yang terjadi di sekitarmu, haruslah kamu ambil pelajaran. Jangan sampai semuanya berlalu tanpa bekas. Bagai orang malas yang selalu memelas, tak pernah peduli dengan sejuta kejadian yang nahas.
Gunakanlah matamu untuk memandang dengan sepenuh hatimu. Pikirkan dengan sejernih akalmu. Jangan sampai semua kejadian yang sudah berlalu justru akan menimpa dirimu.


    Semilyar Harapan Ortu
  
Ada orang tua yang sedang membanting tulang memeras keringat. Jangan buat hati mereka tersayat dengan sikapmu yang seolah berkhianat. Sikapmu yang justru tidak taat dengan peraturan yang telah dibuat. Akhirnya, membuat hati mereka berat, nafasnya sesak, dan pikirannya penat!!
Semilyar harapan indah runtuh dalam sekejap. Semua asa telah hilang dalam waktu sesaat. Penyesalan pun datang terlambat. Semuanya menjadi sia-sia tak bermanfaat.

Ini hanyalah sekadar peringatan dari goresan pena kecilku. Dari diriku yang berlumur dosa dan banyak salah. Diriku tidak seperti dirimu, mungkin kau jauh di atas mengungguliku. Namun, apa salahku jika kuhanya menggerakkan tarian pena di atas kertas putih ini, seputih awan di pagi ini. Hanya kebaikan yang kuharap.
Jangan pernah kecewakan ummi, abi, kakak, dan adik; juga teman-teman seperjuangan dan para ustadz pengajar. Buatlah senyum mereka mengembang renyah karena memandangmu sebagai anak yang saleh.


Semoga secangkir kopi hangat ini dapat memberi semilyar inspirasi yang penuh arti. Hangatnya selalu memberi ketenangan dan segarnya selalu membawa semangat untuk berbenah diri. Amiin..


Ditulis di pagi yang dingin, hari kesekian bulan Januari 2018. Pesantren Darul Atsar, Kedu, Temanggung yang Bersenyum..

12 komentar untuk "SECANGKIR KOPI HANGAT ITU..."

  1. Wa fiikum barakallah.. Semoga para musyrif bisa memberikan motivasi untuk santri-santrinya.

    BalasHapus
  2. Kata kata penyemangat, unik lagi bersajak. ����, menggambarkan suasana yang 'nyantri' banget. Masya Allah wa Barokallahufiikum.

    Oya, Mengingat kondisi dunia saat ini, di lema keterpurukan akibat pandemi. Sedemikian rupa, Allah jadikan dengannya sluruh aktifitas dunia terganggu bahkan sebagiannya terhenti. Termasuk bubarnya barisan mujahid bil qolam dari medannya, hingga kini mereka cukup berjuang di rumah masing masing nya.

    Untuk Syabab Salafy, yang masih terus berkarya.. mungkin dan ana yakin sangat bisa untuk sedikit meluangkan kreatifitas antum, menuangkan ide untuk merangkai artikel yang berkait dengan keadaan kita sekarang ini. Terlebih untuk para santri yang merindukan ma'had tempat mereka meraup warisan ilmu, tentu haus akan segarnya siraman rohani. Agar semangat juang mereka tetap terjaga.

    Terancam iman dan akhlaq mereka! Bersediakah membantu kita para santri, menopang kembali kekokohan hati yang hampir runtuh lantaran kondisi kritis pandemi? Yassarollohu umuuronaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tentu, besar harapan untuk semua syababsalafy di manapun berada, mereka mampu menerapkan ilmunya dalam aksi nyata. Juga untuk turut berkarya dan #TerusBerprestasi demi kebaikan negeri ini.

      Barangkali ada syababsalafy yang sudah menyelesaikan jenjang studi di pesantren bisa bergabung dengan kami? Tentu kami sangat bersyukur. Namun, semua harus tetap menimba bimbingan dari asatidzah.

      Hapus
  3. Sekarang yang banyak itu yang masih santri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah yang sudah lulus juga banyak.

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus